cr: sjissj/amdey/kyupuppy/fibabo/meatyoudumpling/_ssooong/SUPERJUNIORSARANGHAEU

sebenernya masih banyak foto sih, tapi ngg bisa sekarang yaa nguploadnya. tapi pasti dilanjuti deh.

 

credit : SUP3RJUNIOR.WORDPRESS.COM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

credit : SUP3RJUNIOR.WORDPRESS.COM

 

 

 

 

credit : SUP3RJUNIOR.WORDPRESS.COM

credit : SUP3RJUNIOR.WORDPRESS.COM

Image

haiii haaiii semuanya, seperti biasa author balik lagi bawa lanjutan fanficnya. kalo ngg salah hari ini URI EONNI (TAEYEON) ultah yaa, SAENGIL CHUKAE eonni >.< semoga langgeng ama LEETEUK oppa nya yaaaa *loh* hahahaha. langsung aj yaa ke crita🙂 this is it…..

Kami ke lokasi yang lain. Letak rumahnya tak terlalu jauh dari rumah sebelumnya. Namun perbedaannya apabila rumah sebelumnya berada di tengah kota atau keramaian, rumah yang ini terletak dipinggir dan sedikit jauh dari keramaian. Aku sangat menyukai dengan lokasinya yang terletak di pinggiran karena jauh dari keramaian. Kami masuk kerumah tersebut. Rumahnya sangat luas dan begitu indah.

Image

“Bagaimana nona ?” dia tersenyum bangga melihat reaksiku ketika memasuki rumah.

Image

Image

Image

“Wuahh, kau benar-benar memiliki rumah yang begitu sempurna” aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari setiap sudut rumah.

“Ayo kita ke lantai atas” ia mengajakku ke lantai atas.

“Wuahh, bagus sekali ahjumma, disini ada 2 kamar. Aku bisa menjadikan kamar yang kecil ini sebagai tempat kerjaku” aku melihat-lihat isi kamar.

“Baiklah, ayo aku akan menunjukkan point utama dari rumah ini” ia menuruni tangga.

“Maksud ahjumma masih ada hal yang lebih menarik ?” aku mengikutinya menuruni tangga.

“Tentu saja” ia tersenyum bangga.

Kami menuju belakang rumah, sepertinya aku melihat taman. Itu membuatku lebih senang.

Image

“Wah, ini benar-benar sangat indah” aku menuruni tangga mendekati pantai.

“Aku sudah bilang, kau pasti akan menyukai rumahku yang satu ini” dia diam memperhatikan aku.

“Ne ahjumma, aku sangat menyukainya” angin meniup rambutku yang terurai.

“Bagaimana, apa kau menginginkan rumah ini ?” ia tersenyum melihatku.

“Ne ahjumma, besok aku akan kesini mengurus pembayarannya” aku naik mendekati pemilik rumah.

Setelah puas meneliti setiap sudut rumah, aku pulang. Aku tidak sabar menunggu besok. Aku akan memiliki rumah yang sangat bagus dan istimewa. Keesokan harinya, setelah pulang mengajar, aku bergegas untuk menyelesaikan masalah pembayaran rumah. Karena sewa apartemenku akan berakhir seminggu lagi, maka minggu depan aku baru bisa pindah ke rumah baruku. Aku baru saja menyelesaikan masalah pembayaran dirumah ahjumma itu, lalu aku merasakan ponselku berdering.

“Yoboseyo” aku menjawab panggilan yang masuk.

“Ne, Taenggo apa kau ada waktu malam ini ?” suara Sica terdengar sangat kencang.

“Yak, suaramu kencang sekali. Wae ?” aku menjauhkan ponsel dari telingaku.

“Mianhe Taeng. Hmm, kau maukan ikut makan malam bersama kami ? Aku akan memperkenalkanmu pada Donghae oppa” suaranya terdengar sangat senang.

“Hmmm, apa tidak mengganggu ?” aku agak ragu.

“Aniyo, kau tenang saja. Donghae oppa juga mengajak temannya” ia meyakinkanku.

“Ne, terserah kau saja” aku pasrah.

“Handel and Gratel jam 7, arasso ?” Sica bersemangat.

“Ne arasso” aku menutup telpon.

-LEETEUK POV-

“Hyung, ada sesuatu yang harus aku sampaikan” Donghae masuk ruangan kerjaku.

“Tentang ?” aku masih fokus pada pekerjaan.

“Rumah, rumah dimana kedua orang tua hyung dibunuh” Donghae terlihat serius.

Mendengar tentang rumah itu aku mendekati Donghae dan meninggalkan pekerjaanku.

“Bukankah rumah itu sudah dijual ?” aku kembali memikirkan rumah itu.

“Ne, berita terakhir yang kami dengar rumah itu dijual kembali oleh pemiliknya” jelas Donghae membuatku penasaran.

“Apa kalian tahu siapa pemiliknya yang baru ?” aku menggali info dari Donghae.

“Kami hanya mengetahui bahwa dia adalah seorang yeoja yang masih muda, hanya itu” aku sedikit kecewa.

“Apa kalian tidak mendapatkan info yang lain ?” aku bersandar pada sofa putih yang aku duduki.

“Kami akan terus mencari infonya” Donghae ikut bersandar.

“Aisshh, sepertinya rumah itu tidak akan membawa pengaruh besar pada masalah pembunuhan waktu itu” suaraku terdengar putus asa.

“Tidak usah terlalu dipikirkan hyung. Oh ya, apa malam nanti hyung ada acara ?” ia mengalihkan pembicaraan.

“Wae ?” aku menjawab singkat.

“Malam nanti jam 7 di Handel and Gratel, Sica ingin mengenalkan seorang temannya, dan aku disuru mengajak hyung” ia tersenyum.

“Baiklah” aku menyetujuinya.

“Hyung aku harus pergi, masih banyak yang harus aku kerjakan di kantor” Donghae keluar dari ruang kerjaku.

“Ne” aku kembali ke pekerjaanku.

-TAEYEON POV-

Sekarang sudah pukul 05.30, aku harus siap-siap. Aku tidak boleh terlambat. Aku mendengar ponselku bordering. Nama Sica tertera dilayar ponselku.

“Yoboseyo” aku mengangkat telpon.

“Taeng, kau tidak lupa dengan janji kita kan ?

“Aniyo. Aku sedang bersiap-siap, sebentar lagi aku akan datang” aku melihat pantulan diriku di cermin.

“Ne, aku menunggumu. Annyeong” Sica mengakhiri percakapan kami.

Setelah memastikan semuanya sudah siap, aku keluar apartment menunggu taxi. Hari ini aku tidak membawa serta mobilku, entah kenapa Sica melarangku membawa mobil. Sica bilang, ia akan mengantarkanku pulang, dia ingin tahu dimana aku tinggal. Alhasil sekarang aku naik taxi menuju restoran. Aku memasuki restoran dan mencari sosok Sica. Aku melihat ada tiga orang yang duduk di meja tersebut, Sica dan dua orang lelaki. Arasso, itu pasti calon suami dan teman calon suami Sica. Laki-laki yang memakai kemeja hitam itu sepertinya calon suami Sica, karena sekarang ia sedang merangkul Sica. Laki-laki yang satunya itu pasti teman mereka, tapi siapa ya. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena posisi duduknya yang membelakangi aku sekarang. Aku mendekat ke meja tersebut.

“Annyeonghaseyo, mianhae aku terlambat” aku membungkukkan badan ketika sudah berada didekat meja.

“Gwaenchana Taeng, kau tidak terlambat, kami memang datang lebih awal” Sica mempersilahkan aku duduk.

“Yakk, Donghae-ah, jadi ini teman yang kau bilang ingin dikenalkan oleh Sica ?” Leeteuk tampak kaget.

“Op…Oppa ?” aku sama kagetnya dengan Leeteuk oppa.

Aku dan Leeteuk sama-sama memasang wajah meminta penjelasan.

“Molla hyung. Sica hanya menyuruhku mengajak hyung. Aku tidak tahu sama sekali. Jadi kalian sudah saling kenal ?” Donghae melirik Leeteuk.

“Mianhae oppa, Taeng. Aku hanya ingin memperkenalkan Taeyeon pada Donghae oppa. Jadi aku pikir sebaiknya Donghae oppa harus mengajak teman juga, jadi semua ini tidak salahkan ?” Sica tertawa jahil.

“Te…tentu saja” aku dan Leeteuk menjawab secara bersamaan. Aku dan Leeteuk saling lirik sebentar, lalu kamipun tertawa geli.

“Jadi kau teman Sica yang baru ?” Donghae menghentikan tawa kami semua.

“Ooh ne, Kim Taeyeon imnida, tapi kau boleh memanggilku Taeng atau Taenggo” aku tersenyum ramah.

“Lee Donghae imnida. Wah nama panggilanmu lucu sekali” ia membalas senyumku.

Kami mulai menyantap makanan yang sudah dipesan. Wah makanannya enak sekali.

“Oppa, aku ingin Taeng menjadi pendampingku dipernikahan kita nanti, bagaimana ?” Sica membuka suara.

“Wah, itu bagus sekali. Dan seperti yang aku katakan waktu itu, Leeteuk hyung yang akan menjadi pendampingku” Donghae mengingatkan Sica.

“Omo, kau tidak salah” aku berbicara dengan mulut yang penuh makanan.

“Yakk, habiskan dulu makanan dimulutmu” Leeteuk melempari tissue ke hadapanku karena sepertinya mulutku dikotori oleh makanan. Aaisshh, aku ini memalukan sekali.

“Mianhae” aku mengambil tissue yang diberi Leeteuk.

“Kau tidak perlu kaget Taeng, aku memang menginginkan dirimu menjadi pendampingku” Sica dan Donghae tertawa penuh arti.

Kami menghabiskan makanan sambil berbincang-bincang. Disela-sela obrolan Sica melirik jam tangannya.

“Oppa, kau tidak ingin membuat omma dan appa menunggukan ?” Sica mengingatkan Donghae.

“Aigo, aku lupa. Kaja” Donghae beranjak.

“Yakk, kalian kenapa ?” Leeteuk terlihat bingung.

“Mianhae oppa, keluarga kami mengadakan makan malam, jadi kami harus pulang. Annyeong” Sica melambaikan tangannya pada kami.

“Tenang hyung, kami akan membayar makanannya” Donghae tertawa geli.

“Yakk, Sica-ah, kau bilang akan mengantarkanku pulang” aku mengingatkan Sica.

“Mianhae Taeng, aku tidak bisa. Leeteuk oppa kau tidak keberatan mengantar Taenggo pulangkan ?” Sica melirik Leeteuk.

“Aisshh” ucapku dan Leeteuk bersamaan.

“Kaja” Leeteuk mengajakku keluar dari restoran.

“Oppa, aku bisa pulang sendiri, kau pulang saja duluan” aku berhenti mengikutinya menuju mobil.

“Ani, Sica menyuruhku mengantarmu pulang” Leeteuk berbalik kearahku.

“Gwaenchana, aku bisa naik taxi” aku menghindari tatapannya. Leeteuk tidak membalas ucapanku. Aku melihat kearahnya, dan ternyata dia sudah berada tepat dihadapanku. Tangannya langsung menarik tanganku menuju mobil. Aku tidak tahu kenapa tidak bisa menolaknya, tubuhku menuruti perintah Leeteuk untuk masuk mobil.

-LEETEUK POV-

“Ani, Sica menyuruhku mengantarmu pulang” aku berbalik menatap Taeyeon. Aku baru menyadari bahwa ia sudah jauh dariku. Rupanya ia tidak mengikutiku menuju mobil.

“Gwaenchana, aku bisa naik taxi” ia menunduk tidak mau menatapku.

Mana mungkin aku membiarkannya pulang dengan taxi. Apa aku ingin mati karena khawatir. Tunggu, apa yang baru saja aku pikirkan. Aigo, aku sudah tidak tahan. Aku mendekat kearahnya, ia tidak menyadari bahwa sekarang aku sudah berada dihadapannya. Aku menarik tangannya yang membuat ia terkejut dan mengajaknya menuju mobil. Ia tidak menolak, ia mengikutiku menuju mobil. Aku membuka pintu mobil dan menyuruhnya masuk. Aku mengendarai mobil meninggalkan restoran.

“Gomawo oppa” Taeyeon menoleh kearahku.

“Cheonma” aku tetap fokus mengendarai mobil. Aku melirik jam tanganku, sekarang baru pukul 8, masih terlalu cepat kalau pulang kerumah.

“Apa kau suka ke taman hiburan ?” aku membuka suara.

“Ne ?” sepertinya Taeyeon tidak mendengar perkataanku.

“Apa kau suka ke taman hiburan ?” aku mengulangi pertanyaanku.

“Tentu saja. Bukannya semua orang suka ke taman hiburan” dia tersenyum manis.

“Baiklah, kita kesana sekarang” aku sangat senang dengan responnya.

“Mwo ?” Taeyeon kaget. Aku tidak memperdulikannya. Karena terlalu senang, tidak terasa kami sudah berada di taman hiburan.

“Wah sangat menyenangkan, aku belum pernah ke taman hiburan pada waktu malam seperti ini” Taeyeon terlihat sangat senang.

“Baguslah kalau kau senang. Ayo kita naik wahana itu !” aku menunjuk wahana bianglala.

“Mwo ? Oppa….

“Wae kau takut ? Arasso, kau memang seperti anak kecil” aku sedikit bercanda.

“Aniyo, kaja, kita naik wahana itu” Taeyeon  menarik tanganku. Aku kaget, ku pikir ia akan tetap menolak atau mencari wahana lain.

“Apa kau yakin ?” aku menghentikan langkahku. Ia ikut berhenti namun tidak menjawab. Aku yakin ia tidak berani naik wahana ini. Suaranya sedikit bergetar ketika aku mengajaknya naik wahana itu.  Aku menarik tangannya untuk naik wahana lain. Ia terlihat lega. Setelah puas bermain aku mengantarnya pulang.

“Gomawo oppa, annyeong. Hati-hati dijalan” ia melambaikan tangannya lalu masuk ke gedung apartemennya. Aku menunggu untuk memastikan ia sudah masuk, setelah yakin aku melajukan mobil menuju rumahku.

-TAEYEON POV-

            Seminggu kemudian….

“Yakk, Sica-ah sepulang mengajar nanti kau tidak lupa untuk membantuku kan ?” aku memastikan agar Sica tidak lupa.

“Arasso, aku sudah mencatatnya dikepalaku” ia menunjuk kepalanya.

“Gomawo” aku tersenyum senang.

“Taeng, kenapa kau tidak minta bantuan namjachingumu saja ?” ia menggodaku.

“Siapa yang kau maksud ?” aku tidak mengerti.

“Leeteuk oppa” ia sedikit membesarkan suaranya.

“Yakk, dia bukan namjachinguku. Kami hanya berteman” aku mulai salah tingkah.

“Kalian sudah sering pergi berdua kan ? Dan kau juga menyukainya kan ?” Sica seperti bisa melihat semuanya.

“Molla” aku memang bingung.

“Aisshh, aku tau semuanya. Kau terlihat aneh jika ada Leeteuk oppa” ia mulai memancingku.

“Aigo, apa terlalu terlihat kalau aku menyukainya ?” aku khawatir.

“Begitulah, wanita lebih peka dari laki-laki. Aku memang bisa melihatnya dari tingkahmu tapi Leeteuk oppa mungkin tidak tahu, jadi kau tenang saja” ia menenangkanku.

“Hmm, tapi aku rasa Leeteuk oppa tidak mempunyai perasaan yang sama sepertiku” kepercayaan diriku merosot.

“Kau tahu darimana, kau tidak boleh berpikir negatif” ia memberiku semangat.

“Kau tahu sekretarisnya itu kan, aku rasa dia lebih tertarik padanya. Dan kau tahu Leeteuk oppa pernah bilang kalau aku bukan tipe idealnya” aku menghela napas.

“Leeteuk oppa tidak mungkin menyukai Sora. Kau harus semangat, arasso. Fighting” ia mengepalkan kedua tangannya. Aku merasa percaya diri kembali setelah mendengar Sica berbicara seperti itu.

Sepulang mengajar, kami langsung menuju rumah baruku. Semua barang sudah dipindahkan, kami tinggal menyusunnya dan merapikannya saja. Karena aku ditemani Sica, semua pekerjaan selesai lebih cepat. Sekarang kami duduk dibelakang rumah menikmati indahnya pantai kecil ditemani teh hangat.

“Rumahmu indah sekali, rasanya aku ingin disini terus” Sica membuka suara.

“Kau bisa datang kesini setiap hari kalau kau mau, atau kau juga boleh menginap disini” aku menyenggolnya.

“Jinca ? Wahh, pasti menyenangkan” ia meminum tehnya. Kami kembali diam menikmati pantai.

“Taeng, bagaimana kalau mengajak anak-anak kerumahmu ? Ini akan lebih menghemat biaya daripada jalan-jalan ke tempat lain. Masalah beres-beres atau yang lainnya kita bisa saling membantu antar guru. Bagaimana ?” ia terlihat antusias.

“Sepertinya akan menyenangkan. Kita bicarakan pada kepala sekolah besok, bagaimana ?” aku tak kalah antusiasnya.

“Ne Taeng” kami berdua pun tertawa.

Hari sudah gelap, Sica pamit untuk pulang. Sekarang aku sendirian dengan suasana rumah baru. Aku sangat senang dan mulai menjelajahi semua sudut rumah. Setelah puas aku memilih untuk menonton tv. Sedang asyik menonton tv, aku mendengar suara aneh di ruang kamar tamu dekat dapur. Dengan ragu-ragu aku mendekati kamar tamu dan membuka pintu.

“Aaarrrrrrgggggg……

To Be Continued…..

kira-kira taeyeon liat apa yaa di kamar tamu itu ??? kita tunggu part selanjutnya yaa…. semoga critanya ngg ngebosenin yaa🙂 anyyeonnggg

DON’T BE SILENT READER !!!!!

FULL HOUSE ~~ Part 2

Posted: January 7, 2012 in Fanfiction
Tags: , ,

annyeonggg.. author balik lagi nih bawa lanjutan fanfic yang kemaren, hehehe. maap yaa kalo ceritanya agak gak jelas :ppp Yaudah, daripada banyak omong langsung aja yaa, TEUKIDOT :pp

-LEETEUK POV-

            Aku kembali ke tempat dimana Ye eun duduk setelah beberapa  menit aku meninggalkannya ke toilet. Aku melihat Ye eun bersama seorang wanita sedang mengobrol. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena posisinya membelakangiku. Aku mendekat kearah mereka, tiba-tiba ye eun menunjukku dengan sendok es krimnya dan wanita yang ada dihadapan Ye eun berbalik arah. Sepertinya ia sedikit terkejut melihat diriku, begitupun denganku. Aku terkejut melihatnya, karena ternyata ia adalah guru baru disekolah Ye eun. Ia tiba-tiba berdiri.

“Leeteuk-ssi…,”ucapnya kaget.

“Taeyeon-ssi,”aku membalasnya.

“Yak, oppa, onnie, kenapa kalian sangat terkejut ?,”Ye eun memasang wajah polosnya lagi.

“Ye eun-ah, kau tidak boleh memanggilnya seperti itu,” aku memarahi Ye eun lalu minta maaf pada Taeyeon.

“Gwaenchana, aku yang menyuruhnya memanggilku seperti itu,”Taeyeon sedikit tersipu.

“Aisss, jinca,” aku sedikit bingung.

“Mian, aku sepertinya harus mencari meja lain. Mian aku mengganggu kalian,”ia menundukkan kepalanya.

“Yak, onnie, kau bilang kau sendirian. Kenapa kita tidak satu meja saja,” ia menghentikan langkah Taeyeon.

“Tapi….

“Oppa, gwaenchana ?,”ia memasang wajah polosnya kembali.

“Gwaenchana Taeyeon-ssi. Tidak enak kalau kau duduk sendirian,”aku merasa sedikit aneh.

“Jinca ?,” ia memastikan. Ye eun mempersilahkan Taeyeon duduk disampingnya, aku hanya bisa  tersenyum padanya.

“Kamsahamnida,”ia tersenyum. Entah kenapa, senyumannya membuat aku sedikit tersipu. Ia memesan es krim yang sama dengan Ye eun. Sepertinya Taeyeon adalah penyuka es krim, sama seperti Ye eun. Mereka mengobrol dan tertawa. Wajahnya sangat manis ketika ia tertawa. Yak, Leeteuk apa yang kau pikirkan.

“Oppa, kenapa kau diam saja ?,” suara Ye eun mengagetkanku.

“Ani, aku hanya tidak tau mau berbicara apa,”aku menjawab seadanya.

“Leeteuk-ssi, apa kau tidak suka dengan es krim ?,”Taeyeon tiba-tiba bertanya.

“Mwo ? Es krim ? Aku tidak menyukai hal-hal yang berbau kekanak-kanakan,”aku mengatakan hal yang sebenarnya.

“Mwo ? Jadi maksudmu es krim itu kekanak-kanakan ?,”wajahnya berubah cemberut.

“Ne, hanya anak kecil dan orang yang kekanak-kanakan yang suka es krim. Dan aku tdak suka dengan orang yang kekanak-kanakan,”jawabku tanpa memperhatikan wajahnya yang berubah murung.

“Aku menyukai es krim, jadi maksudmu aku kekanak-kanakan ?,”suaranya lemah.

“Mungkin saja, Taeyeon-ssi,”jawabku datar.

“ Leeteuk-ssi, kau sebaiknya panggil aku Taeng atau Taenggo saja, aku tidak suka Taeyeon-ssi,”ia memainkan es krimnya.

“Araso, kau juga jangan memanggilku…

“Ne, oppa,”ia memotong kalimatku dengan wajahnya yang tetap murung. Entah kenapa, aku tidak menyukai wajahnya yang seperti itu.

-TAEYEON POV-

 “Ne, hanya anak kecil dan orang yang kekanak-kanakan yang suka es krim. Dan aku tdak suka dengan orang yang kekanak-kanakan.

 

“Aku menyukai es krim, jadi maksudmu aku kekanak-kanakan ?

 

“Mungkin saja, Taeyeon-ssi.

Kata-kata itu terngiang di kepalaku. Aku kekanak-kanakan. Dia tidak menyukai orang yang kekanak-kanakan. Jadi dia tidak menyukaiku ? Aiisshh, Taeng apa yang kau pikirkan. Sejak kapan kau perduli dengan pendapatnya pada dirimu ?

“Taengg, sepertinya kami harus pulang, kau bagaimana ?”leeteuk membuyarkan lamunanku.

“Nde, sepertinya aku juga harus pulang, hari sudah mulai gelap”aku melihat ke arah luar kedai.

“Baiklah, aku akan ke kasir”leeteuk berdiri dan berjalan menuju kasir.

“Oppa, aku juga akan ke kasir” aku berdiri dari kursi.

“Tidak perlu, kau temani Ye eun saja, aku akan membayar bagianmu” ucap Leeteuk meninggalkan kami.

“Nde, kamsahamnida” aku duduk kembali disamping Ye eun. Lima belas menit kemudian, Leeteuk memanggil kami untuk pulang.

“Eonni ingin pulang dengan kami ? “tawar Ye eun.

“Ooo, aniyo. Eonni pulang sendiri” aku tersenyum padanya.

“Eonni, aku boleh memelukmu ? “Ye eun terlihat malu-malu.

“Peluk ? Tentu saja boleh, “ aku membungkuk sejajar dengannya menunggu ia memelukku. Ye eun memelukku erat. Aku melirik ke arah Leeteuk, Leeteuk terlihat sedikit heran melihat Ye eun memelukku. Tiba-tiba Ye eun membisikkan sesuatu.

“Eonni, aku harap eonni bisa jadi pacar oppa,”ia tersenyum. Aku sangat terkejut dengan apa yang barusan Ye eun ucapkan padaku. Aku melirik kearah Leeteuk lagi, saat mata kami bertemu, ia memalingkan wajahnya. Aku merasa sedikit gugup mendengar ucapan Ye eun. Ye eun melepaskan pelukannya lalu tersenyum padaku.

“Annyeong eonni “ ia melambaikan tangannya padaku.

“ Kami pergi “ ucap Leeteuk lalu masuk ke mobil putihnya. Aku melambaikan tangan saat mobil bergerak meninggalkan kedai.

“Aisshh, Ye eun-ah, apa maksud kata-katamu itu “aku pun masuk mobil dan pulang.

-LEETEUK POV-

Ye eun memeluk Taeyeon ? Sejak kapan Ye eun secepat ini akrab dengan orang yang baru ia kenal. Kang Sora membutuhkan waktu yang sangat lama untuk akrab dengan Ye eun. Bahkan sampai sekarang Ye eun belum terlalu akrab dengan Sora. Lamunanku berhenti ketika aku melihat wajah Taeyeon yang sepertinya sangat terkejut. Apa Ye eun mengatakan sesuatu yang aneh padanya ? Taeyeon melirik padaku, mata kami bertemu, karena sedikit gugup, aku memalingkan wajahku. Ye eun sudah melepaskan pelukannya.

Kami segera mengucapkan salam perpisahan. Aku melajukan mobil meninggalkan Taeyeon yang masih berdiri di depan kedai. Aku merasa sedikit khawatir meninggalkan Taeyeon sendirian. Aku melirik kaca spion mobil untuk melihat Taeyeon. Aku merasa sangat lega ketika melihat Taeyeon juga melajukan mobilnya.

“Apa kau mengatakan sesuatu yang aneh pada Taeyeon ? “aku membuka suara.

“Mwo ? Aniyo. “Ye eun menyangkal.

“Jadi apa yang kau katakan ? Kau tau matanya hampir keluar “aku mengingat ekspresi Taeyeon.

“Jinca ? “Ye eun tertawa.

“Yak, apa yang kau katakan padanya ? “aku mencubit pipi Ye eun.

“Aisssshhh, oppa. Itu urusan perempuan. Dan laki-laki tidak boleh mengetahuinya “ia tersenyum penuh arti.

“Baiklah, oppa tidak akan menanyakannya lagi, “aku pun menyerah.

-TAEYEON POV-

“ Hari ini sangat melelahkan “aku merebahkan tubuh di tempat tidur setelah selesai mandi.

Badanku sangat lelah, aku harus tidur karena besok aku harus bekerja. Aku mencoba memejamkan mata, namun gagal. Aissshh, kenapa aku tidak bisa tidur. Tiba-tiba kata Ye eun terngiang dikepalaku.

“Eonni, aku harap eonni bisa jadi pacar oppa,”ia tersenyum

Aissshhh, kenapa aku harus ingat kata-kata itu lagi. Baiklah, itu hanya perkataan anak kecil, aku tidak perlu memikirkannya. Namun setiap kali aku mencoba melupakan kata-kata itu, tetap saja tidak berhasil. Akhirnya aku memutuskan mendengarkan sebuah lagu untuk melupakan kata-kata itu, dan itu keputusan yang tepat. Lima belas menit kemudian aku sudah tidak memikirkan kata-kata itu dan tertidur pulas.

-LEETEUK POV-

Pagi ini Ye eun bersikeras untuk diantar ke sekolah olehku. Aku tidak tahu kenapa, tapi mungkin saja ia senang waktu aku mengantarkannya kemarin, jadi hari ini ia ingin diantar lagi. Pagi sekali ia sudah duduk manis dimeja makan menungguku turun dari kamarku.

“Oppa, aku sudah siap. Aku berjanji tidak akan membuat oppa terlambat pergi ke kantor karena mengantarku “ ia tersenyum manis padaku.

“Jinca, baiklah. Ayo kita sarapan dulu “ aku mengambil roti dan selai.

“Dia sudah menghabiskan banyak roti dan susu pagi ini, karena terlalu lama menunggumu “ omma tiba-tiba muncul dari dapur.

“Jinca ? “ omma terlihat terkejut dengan reaksiku yang mungkin terlalu berlebihan.

“Omma, itu sangat berlebihan “ Ye eun cemberut. Aku dan omma hanya tertawa.

“Ye eun-ah, appa sarapan dulu, baru mengantarmu, ok ? “ appa baru bergabung dengan kami di meja makan.

“ Appa sarapan saja, hari ini Teuki oppa yang akan mengantarku “ Ye eun mendekat padaku.

“Ne appa, hari ini biar aku yang mengantar Ye eun “ ucapku beranjak dari tempat duduk.

“ Baiklah,  hati-hati dijalan Teuki-ah, Ye eun-ah “ ucap appa sambil memakan rotinya.

“ Ne “ kami menjawab secara bersamaan.

Aku dan Ye eun pamit untuk berangkat. Tak lupa Ye eun dan aku mencium omma dan appa sebelum pergi. Kebiasaan itu sudah kami lakukan sejak aku bergabung ke keluarga kecil ini dan tentu saja sejak Ye eun dilahirkan ke dunia ini.

-TAEYEON POV-

Aku menunggu semua murid di depan gerbang bersama Jessica. Jessica terlihat sangat gembira hari ini. Entah kenapa, tapi dia terlihat lebih ceria dan senyuman tak pernah pergi dari wajahnya.

“Sica-ah, kau sepertinya sangat gembira hari ini “ aku membuka suara.

“Ahh, apakah terlalu terlihat ? “ucapnya tersenyum.

“Ne, itu sangat terlihat, kau mau memberi tahuku ? “aku sedikit ragu dengan apa yang barusan aku katakan.

“ Baiklah, aku akan menceritakannya padamu, tapi tidak sekarang “ ucapnya terlihat sedikit berpikir.

“Arasso, kau pasti membutuhkan waktu sampai kau siap “ aku tersenyum padanya.

“Aniyo, bukan itu maksudku. Kau tau, sejak pertama kali kita bertemu aku merasa bahwa kita seperti sudah lama sekali berteman. Aku sangat susah untuk mencari teman, tapi denganmu aku merasa sangat nyaman. Jadi mana mungkin aku tidak menceritakan hal ini padamu “ ucapnya tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara.

“Jinca ? Aku sangat senang kalau kau merasa seperti itu. Ngomong-ngomong kau mau bercerita tentang apa ? Kau baru saja jadian dengan namja tampan dan kaya ? “ aku menebak asal.

“ Aniyo, aku sudah merasakan itu 3 tahun yang lalu “ ucapnya sembari tersenyum manis.

“ Jadi ? Jangan-jangan kau….

“Ne, aku akan menikah “ ucapnya berbisik padaku.

“Jinca ? “aku sangat terkejut dengan apa yang barusan ia ucapkan. Ia masih muda namun sudah ingin menikah. Tidak sepertiku, seorang namjachingu saja tidak punya.

“ Ne, aku akan menceritakan semuanya padamu sepulang mengajar nanti. Di depan sekolah ini ada sebuah kedai, aku akan mengajakmu kesana “ia tiba-tiba melambaikan tangannya pada seseorang.

Aku melihat ke arah ia melambaikan tangannya. Leeteuk dan Ye eun baru saja keluar dari mobil. Entah kenapa, melihat Leeteuk membuatku sedikit gugup. Aku menghindari untuk menatap Leeteuk. Semua ini gara-gara perkataan Ye eun, aissshh. Kami saling memberi salam.

“Ye eun-ah teman-temanmu sudah menunggu dikelas, ayo kita ke kelas “ ucapku pada Ye eun.

“Ne, songsengnim “ ia mencium pipi Leeteuk lalu mengikutiku masuk ke sekolah. Aku berjalan beriringan dengannya. Aku tak mau berlama-lama bertatap muka dengan Leeteuk. Aku merasa ada perasaan aneh ketika berada di dekatnya.

-JESSICA POV-

Kenapa Taeyeon terlihat aneh saat Ye eun dan Leeteuk oppa tiba. Dia bahkan langsung mengajak Ye eun untuk masuk ke kelas tanpa berbincang dulu dengan Leeteuk oppa. Waktu pertama kali bertemu dengan Leeteuk oppa sepertinya tidak seperti ini. Dia bertingkah aneh. Atau hanya perasaanku saja ?

“Sica-ah, waeyo ?” Leeteuk oppa menyentuh pundakku.

“Ooh, aniyo oppa, hanya memikirkan sesuatu “ aku tersenyum.

“Wae ? Tentang Donghae ? “ ia terlihat khawatir.

“Aniyo. Bukan apa-apa “aku membalasnya cepat.

“Bagaimana persiapan kalian ?

“Sejauh ini lancar oppa, tinggal sedikit lagi dan semuanya beres “ aku sedikit bersemangat.

“Baguslah kalau begitu. Aku harus pergi dulu, annyeong Sica-ah “ ia memasuki mobilnya.

“Ne oppa, hati-hati dijalan “ aku berjalan masuk ke sekolah.

Aaahh, aku ingat kembali dengan Taeyeon. Nanti aku akan menanyakannya langsung. Aku sangat penasaran.

-AUTHOR POV-

Leeteuk sedang sibuk dengan beberapa dokumen yang ada di depannya. Tiba-tiba ketukan pintu membuatnya berhenti sejenak dan menebak siapa yang datang.

“Oppa, ayo makan siang bersama” Sora masuk ke ruangan Leeteuk.

“Hmmm, tapi….

“Oppa ini sudah saatnya kita makan siang, kau bisa melanjutkan itu nanti “Sora menunjuk dokumen-dokumen yang ada dihadapan Leeteuk.

“Baiklah “Leeteuk akhirnya menutup dokumen-dokumen itu.

“Oppa kau mau makan apa ? “Sora merangkul tangan Leeteuk.

“Terserah kau saja “Leeteuk melepaskan tangan Sora.

“Baiklah, aku tau tempat yang makanannya enak “Sora kembali merangkul tangan Leeteuk. Leeteuk akhirnya menyerah dan mengikuti Sora.

-TAEYEON POV-

Aku dan Jessica duduk di sudut kedai yang ada didepan sekolah. Makanan yang kami pesan sudah datang. Kami menikmati makanan sambil bercerita tentang kehidupan masing-masing.

“Aku akan menikah sebulan lagi” Sica memulai cerita.

“Jinca, wah cepat sekali. Calon suamimu ?

“Lee Donghae, dia seorang polisi” Sica sepertinya sedang membayangkan Donghae.

“Umurnya ?” aku sangat penasaran.

“Ia berumur 25 tahun, dan kau tau, dia berteman baik dengan Leeteuk oppa. Entah kenapa mendengarkan nama itu membuat aku tersedak.

“Gwaenchana ?” Sica menyodorkan air putih padaku.

“Gwaenchana, mian Sica-ah” aku mengambil gelas yang ia sodorkan.

“Oooh, ngomong-ngomong tentang Leeteuk oppa, kenapa hari ini dia tidak menjemput Ye eun ya ?” sepertinya dia sangat penasaran dengan reaksiku.

“Mungkin dia sedang sibuk” jawabku tidak tertarik.

“Leeteuk oppaaa…” tiba-tiba ia berteriak.

“Yakk, kenapa kau meneriakkan namanya ?” aku sedikit terkejut.

“Mian Taeng, tapi ada…

“Mwo ?” aku berbalik arah dan melihat sosok Leeteuk. Tak hanya Leeteuk, tapi juga seorang yeoja cantik merangkul tangannya. Dia tersenyum pada kami dan mendekati kami.

“Oppa, kau juga makan disini ?” ucap Sica tanpa memperdulikan yeoja yang ada disamping Leeteuk.

“Ne, kami hanya istirahat makan siang” Leeteuk melepas rangkulan tangan Sora.

“Mau bergabung ? Sepertinya lebih menyenangkan jika lebih banyak orang, ia kan Taeng ?” ia menatapku.

“Ne” hanya itu yang bisa aku ucapkan.

“ Aahh, gomawo, kau tidak keberatankan Sora ?” Leeteuk sudah duduk.

“Ne oppa” sepertinya yeoja itu sedikit kecewa.

“Oppa, ini sekretarismu yang bernama Kang Sora kan ?” Sica terlihat agak sinis.

“Oo ne, Kang Sora imnida” ia memperkenalkan diri.

“Arasso, Jung Jessica imnida, aku teman Leeteuk oppa” Sica juga memperkenalkan diri.

“Kim Taeyeon imnida” aku membungkukkan kepalaku sedikit.

Setelah acara perkenalan yang singkat, kami melanjutkan acara makan. Selama makan siang hanya Sica dan Leeteuk yang banyak menyumbangkan suara. Sora kadang-kadang ikut dalam percakapan. Aku hanya bisa diam dan tak berhentinya memasukkan makanan ke dalam mulutku. Tanpa aku sadari, Leeteuk memperhatikan aku yang sedang makan.

“Oppa, aku harus pergi sekarang, Donghae oppa sedang menungguku dirumah, Taeng aku harus pulang, annyeong” Sica pamit pada kami semua.

“Ne, titipkan salamku pada Donghae” leeteuk tersenyum pada Sica.

“Oo, mian oppa, aku juga harus pergi sekarang” aku beranjak meninggalkan mereka berdua.

“Oh ne” ia tersenyum padaku.

Namun hanya kata itu yang aku dengar dari mulutnya. Apakah sebegitu tidak pedulinya ia padaku. Ia bahkan tidak mengatakan apapun selain itu, aisshh, aku lupa, dia kan datang bersama pacarnya jadi mana mungkin ia akan perduli denganku. Aku ini terlalu banyak berharap. Sudahlah, sepertinya hari ini aku akan melanjutkan mencari rumah yang bagus. Aku mendapatkan beberapa informasi dari tetangga apartemenku mengenai lokasi rumah yang bagus. Aku segera melajukan mobil kelokasi rumah tersebut. Aku mendatangi rumah pertama di daerah Gwang-ju.

Wah, benar juga apa yang dikatakan tetanggaku, rumahnya sangat bagus dan menarik. Tapi untuk rumah yang pertama ini aku tidak terlalu tertarik walaupun aku sempat terkagum melihat isinya. Aku pindah kelokasi rumah yang kedua.

Sama seperti rumah yang pertama, rumah kedua sangat menarik. Tetapi hasilnya pun sama, aku belum merasa tertarik. Sepertinya pemilik rumah sadar akan hal itu.

“Bagaimana nona, kau belum puas dengan rumah ini ?” ia berhenti sejenak.

“Mianhe, tapi aku memang merasa seperti itu ahjumma” aku tersenyum tidak enak padanya.

“Bagaimana kalau kau ku ajak  kerumah ku yang satu lagi ? Aku yakin kau pasti akan tertarik” ia mengajakku pergi.

“Kau masih mempunyai rumah yang lebih menarik dari ini ?” aku terkejut dan memastikan.

“Ne, kajja”

To Be Continued…..

gimana yaa rumah yang ketiga ? Apa Taeyeon masih ngg tertarik ??? Truss gimana hubungan Leeteuk ama Taeyeon selanjutnya ??? Tunggu aja part selanjutnya yaa🙂

DON’T BE SILENT READER !!!!!